Senin, 05 September 2011

Skripsi Pengaruh Kemampuan Berpikir Kreatif Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Matematika Kelas VIII di MTs Negeri Babakan Ciwaringin Cirebon


BAB I
PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya pendidikan adalah laksana eksperimen yang tidak pernah selesai sampai kapan pun, sepanjang ada kehidupan manusia di dunia ini. Dikatakan demikian, karena pendidikan merupakan bagian dari kebudayaan dan peradaban manusia yang terus berkembang. Hal ini sejalan dengan pembawaan manusia yang memiliki potensi kreatif dan inovatif dalam segala bidang kehidupannya.
Menurut Trianto (2007: 1) dalam situasi masyarakat yang selalu berubah, idealnya pendidikan tidak hanya berorientasi pada masa lalu dan masa kini, tetapi sudah seharusnya merupakan proses yang mengantisipasi dan membicarakan masa depan. Pendidikan hendaknya melihat jauh ke depan dan memikirkan apa yang akan dihadapi peserta didik di masa yang akan datang.
Hasbullah (2005: 191) menyatakan bahwa sistem pendidikan yang kita miliki dan dilaksanakan selama ini masih belum mampu mengikuti dan mengendalikan kemajuan-kemajuan tersebut sehingga dunia pendidikan belum dapat menghasilkan tenaga-tenaga pembangunan yang terampil, kreatif dan aktif, yang sesuai dengan tuntutan dan keinginan masyarakat luas. Bagaimanapun berkembangnya ilmu pengetahuan modern menghendaki dasar-dasar pendidikan yang kokoh dan penguasaan kemampuan yang terus menerus.
Salah satu wadah yang dipandang sangat penting dan seyogyanya berfungsi menciptakan sumber daya manusia berkualitas adalah pendidikan. Menurut E. Mulyasa (2007: 13) pada dasarnya pendidikan adalah suatu proses membantu manusia mengembangkan dirinya sehingga mampu menghadapi segala perubahan dan permasalahan dengan sikap terbuka dan kreatif tanpa kehilangan identitas dirinya. Sedangkan tujuan umum pendidikan sendiri yaitu: meletakkan dan meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan yang lebih lanjut.
Kualitas pendidikan yang dirasakan makin menurun, yang belum mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, menuntut adanya sejumlah perubahan. Bila tidak demikian, jelas akan berakibat fatal dan akan terus ketinggalan. Dalam (http://www.Rosyid.info/2010/06/berfikir kreatif. html.02/10/2010) banyak faktor yang menyebabkan kualitas pendidikan itu menurun, diantaranya adalah kejenuhan guru sehingga belum cukup perhatian dicurahkan untuk mengajar murid berpikir dan bertindak kreatif. Murid tidak dirangsang untuk menemukan dan mendefinisikan masalahnya sendiri.
Joyce Wycoff (2003: 51) berpendapat bahwa kreativitas sangat penting dikarenakan, ketika seseorang menemukan kreativitasnya, mereka cenderung menjadi mandiri, percaya diri, berani mengambil resiko, berenergi tinggi, antusias, spontan, suka berpetualang, cermat, selalu ingin tahu, humoris, dan polos seperti anak-anak. Walaupun mengenali sifat-sifat yang mendorong kreativitas merupakan hal yang penting, lebih penting lagi mengingat bahwa kita semua terlahir dengan kemampuan mencipta. Sementara itu, menurut Jalaluddin Rahmat (2005: 74) memahami proses kreativitas dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif kita, karena kreativitas merupakan syarat dari berpikir kreatif.
Seseorang tidak akan pernah berpikir dan bertindak kreatif selama pola pikirnya terikat atau bahkan oleh berbagai peraturan maupun berbagai perilaku yang dibentuk oleh kebiasaan-kebiasaan. Masyarakat yang tertutup apalagi peranan kekuasaan terlalu besar pengaruhnya terhadap kehidupan akan sulit diharapkan memperoleh semangat kreativitas. Toto Tasmara (1995: 132) menyatakan bahwa persyaratan utama dari kreativitas adalah adanya kelapangan dan suasana yang memungkinkan seseorang dapat melakukan improvisasi atau bahkan melawan arus dari kebiasaan-kebiasaan. Salah satu cara menjadi manusia kreatif kita harus mampu mendobrak kebiasaan.
 Abdusysyakir (2007: 16) dalam bukunya menyatakan bahwa berpikir kreatif sangat berkaitan dengan matematika. Masalah yang diajukan dalam matematika adalah masalah realistik (berkaitan dengan kehidupan nyata) dan relevan (menggambarkan kegunaan matematika dan sesuai tahap berpikir). Masalah yang diajukan  bukan masalah yang hanya dapat diselesaikan dengan satu cara, tetapi dapat diselesaikan dengan banyak cara, metode, dan pendekatan serta memungkinkan diperoleh solusi yang beragam. Masalah realistik tidak selalu berupa masalah yang berkaitan dengan kehidupan dunia nyata. Masalah realistik dapat juga berupa masalah yang hanya dapat direalkan dalam pikiran siswa. Masalah dalam matematika  yang dapat diselesaikan dengan banyak cara, metode dan pendekatan ini akan terbantu dengan berpikir kreatif.
Sementara itu menurut Abdul Halim Fathani (2009: 25) bahwa, matematika merupakan salah satu mata pelajaran pokok yang diajarkan disetiap jenjang pendidikan dasar. Matematika merupakan “Queen and Servant of Science  maksudnya adalah matematika selain sebagai fondasi bagi ilmu pengetahuan lain juga sebagai pembantu bagi ilmu pengetahuan yang lain, khususnya dalam pengembangan ilmu pengetahuan tersebut.
Aktivitas matematika memang memerlukan logika dan kecerdasan otak. Namun logika dan kecerdasan saja tidak mencukupi. Untuk dapat berkembang, matematika sangat membutuhkan kreativitas dan intuisi manusia seperti halnya seni dan sastra. Kreativitas dalam matematika menyangkut akal-budi, imajinasi, estetika, dan intuisi, mengenai hal-hal yang benar. Para matematikawan biasanya memulai mengerjakan penelitian dengan menggunakan intuisi, dan kemudian berusaha membuktikan bahwa intuisi itu benar. Kekaguman pada segi keindahan dan keteraturan sering kali juga menjadi sumber motivasi bagi para matematikawan untuk menciptakan terobosan-terobosan baru demi pengembangan matematika. Dengan kata lain, untuk dapat mengembangkan matematika tidak hanya dibutuhkan kecerdasan menggunakan otak kiri saja, melainkan juga harus mampu menggunakan otak kanannya secara seimbang (Abdul Halim Fathani, 2009: 25).
Pembelajaran merupakan kegiatan utama dalam lingkungan sekolah yang menjadi penentu kualitas Output sumber daya manusia. Oleh sebab itu upaya peningkatan kualitas pembelajaran menjadi kebutuhan yang signifikan. Refleksi keseluruhan dari pembelajaran ditunjukkan oleh prestasi belajar yang dicapai oleh siswa. Namun kenyataannya dalam belajar mengajar sesuai dengan tujuan tidaklah mudah. Dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah sering dijumpai beberapa masalah. Banyak dijumpai siswa yang mempunyai nilai rendah dalam sejumlah mata pelajaran, khususnya pelajaran matematika. Prestasi belajar yang dicapai belum memuaskan mengingat masih banyak siswa yang memperoleh nilai di bawah standar yang ditetapkan.
Dalam (http://www.Rosyid.info/2010/06/berfikirkreatif.html.  02 / 10 / 2010) keberhasilan pembelajaran tidak hanya dipengaruhi oleh metode pembelajaran tetapi juga dipengaruhi oleh kemampuan berpikir kreatif siswa. Siswa yang kreatif dalam proses belajar mengajar dimungkinkan memiliki prestasi belajar yang tinggi karena lebih mudah mengikuti pembelajaran, sedangkan siswa yang tidak berpikir kreatif cenderung lebih sulit mengikuti pembelajaran. Pada fenomena yang terjadi, kenyataannya di MTs Negeri Babakan Ciwaringin Cirebon, bahwa tidak sedikit dijumpai siswa berprestasi tinggi namun memiliki kemampuan berpikir kreatif rendah.
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas maka peneliti tertarik melakukan penelitian tentang pengaruh kemampuan berpikir kreatif terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran matematika kelas VIII di MTs Negeri Babakan Ciwaringin Cirebon Tahun Ajaran 2010/2011, karena:
1.         Topik penelitian tentang berpikir kreatif masih jarang diangkat untuk dijadikan sebuah penelitian.
2.         Berpikir kreatif merupakan topik yang sangat penting untuk dikembangkan dalam dunia pendidikan.
3.         Dalam matematika tidak hanya diperlukan logika dan kecerdasan otak saja, tetapi diperlukan juga kreativitas untuk bisa mengembangkannya.


B.       Perumusan Masalah
1.      Identifikasi Masalah
a.    Wilayah penelitian skripsi ini adalah teori belajar dan pembelajaran
b.     Pendekatan Penelitian dalam skripsi ini mempergunakan pendekatan kuantitatif karena menggunakan angka-angka dan menyelesaikannya dengan rumus-rumus.
c.    Jenis Masalah masalah dalam skripsi ini adalah korelasional dan regresi karena data dianalisis menggunakan korelasi dan dilanjutkan dengan regresi.



2.    Pembatasan Masalah
Untuk menghindari keluasan dan kesalahfahaman dalam masalah yang akan diteliti, penulis memberikan pembatasan masalah:
a.       Kemampuan berpikir kreatif yang dimaksud adalah kemampuan kognitif, yaitu: orisinalitis, fleksibilitas, kelancaran dan elaborasi.
b.    Prestasi belajar pada mata pelajaran matematika ini indikatornya adalah nilai mata pelajaran matematika siswa kelas VIII MTs Negeri Babakan Ciwaringin Cirebon semester genap tahun pelajaran 2010/2011.

3.    Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan masalah dalam kondisi realnya yang terdapat pada latar belakang masalah dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut:
a.    Seberapa tinggi kemampuan berpikir kreatif siswa kelas VIII di MTs Negeri Babakan Ciwaringin Cirebon?
b.    Seberapa tinggi prestasi belajar siswa pada mata pelajaran matematika kelas VIII di  MTs Negeri Babakan Ciwaringin Cirebon?
c.    Adakah pengaruh kemampuan berpikir kreatif terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran matematika kelas VIII di MTs Negeri Babakan Ciwaringin Cirebon?


C.      Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian
1.      Tujuan Penelitian
Berdasarkan pertanyaan penelitian diatas, maka penulis melakukan penelitian dengan tujuan:
1.    Untuk mengetahui seberapa tinggi kemampuan berpikir kreatif kelas VIII di MTs Negeri Babakan Ciwaringin Cirebon.
2.    Untuk mengetahui seberapa tinggi prestasi belajar siswa pada mata pelajaran matematika  kelas VIII di MTs Negeri Babakan Ciwaringin Cirebon.
3.    Untuk mengetahui pengaruh kemampuan berpikir kreatif terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran matematika kelas VIII di MTs Negeri Babakan Ciwaringin Cirebon.

2.      Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
a.    Bagi guru dan kepala sekolah
     Dapat menjadi sumber informasi untuk menambah ilmu pengetahuan mengenai pengaruh  kemampuan berpikir kreatif dengan prestasi belajar dan  dapat memudahkan guru merancang model pembelajaran yang dapat mendorong siswa mencapai tingkat berpikir kreatif yang lebih optimal.
b.    Bagi siswa
     Dapat menjadi sumber informasi untuk menambah ilmu pengetahuan mengenai pengaruh kemampuan berpikir kreatif dengan prestasi belajar, sehingga bisa menggali dan mengoptimalisasikan kemampuan berpikir kreatif yang dimilikinya.
c.    Bagi peneliti
     Dapat  menambah ilmu pengetahuan dan bisa mengetahui pengaruh kemampuan berpikir kreatif terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran matematika dan mendapatkan gambaran tentang seberapa tinggi pengaruhnya.


D.      Kerangka Pemikiran
Penulis berpendapat bahwa, salah satu pemikiran yang memegang peranan penting dalam kehidupan dan perkembangan manusia adalah kemampuan berpikir kreatif. Kemampuan ini banyak dilandasi oleh kemampuan kognitif yaitu intelektual, sikap yang terbuka, dan sikap yang bebas. Kemampuan berpikir kreatif merupakan kemampuan yang dimiliki setiap manusia untuk bisa menyelesaikan masalah dengan menggunakan pemikiran secara kreatif, seperti menemukan  dan menciptakan ide baru.
Pada tahap sekolah / madrasah menengah pertama yaitu SMP / MTs, siswa sudah mampu untuk berpikir secara kreatif. Pendapat ini didukung oleh teori perkembangan mental J.Piaget yang dikutip Desmita (2007: 46) mengemukakan bahwa ada empat tahap perkembangan kognitif siswa dari setiap individu yang berkembang secara kronologis yaitu:
1.         Tahap sensori motoris, dari lahir sampai umur sekitar 2 tahun.
2.         Tahap pra operasi, dari sekitar 2 tahun sampai degan umur 7 tahun
3.         Tahap operasi konkret, dari sekitar umur 7 tahun sampai dengan sekitar umur 11 tahun.
4.         Tahap operasi formal, dari sekitar umur 11 tahun dan seterusnya.

Dimana pada tahap operasi formal ini anak sudah mampu berpikir abstrak, logis, rasional, rasional, serta mampu memecahkan persoalan-persoalan yang bersifat hipotesis. Dilihat dari perspektif ini, perkembangan kreativitas remaja berada pada posisi seiring dengan tahap operasional formal. Artinya, perkembangan kreativitasnya, menurut J. Piaget sedang berada pada tahap yang amat potensial bagi perkembangan kreativitasnya (Mohammad Ali dan Mohammad Asrori, 2008: 49) .
Dalam mempelajari matematika, kemampuan menyelesaikan atau memecahkan masalah matematika memerlukan kemampuan berpikir secara kreatif. Untuk membuktikan sesuatu soal dalam matematika diperlukan kemampuan berpikir kreatif.  Salah satu indikator yang dapat digunakan untk mengukur keberhasilan suatu proses belajar mengajar adalah prestasi belajar siswa. Prestasi belajar siswa dalam matematika akan meningkat jika siswa menguasai konsep dari pokok-pokok bahasan dalam matematika. Sedangkan untuk munguasai konsep pokok bahasan matematika diperlukan adanya kemampuan berpikir kreatif. Maka dari itu, kemampuan berpikir kreatif seharusnya berpengaruh dalam meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran matematika.
Pengaruh kemampuan berpikir kreatif terhadap prestasi belajar pada mata pelajaran matematika dapat digambarkan pengaruhnya sebagai berikut:
Tabel 1
Tabel Pengaruh Variabel X terhadap Variabel Y
 

                       

      



Keterangan:     X = Kemampuan Berpikir Kreatif
                        Y = Prestasi Belajar Matematika
= Pengaruh

Berdasarkan kerangka berfikir diatas, diduga bahwa kemampuan berpikir kreatif siswa berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran matematika.

E.       Hipotesis
Berdasarkan uraian teoritis diatas, maka hipotesis penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: “Kemampuan berpikir kreatif berpengaruh positif terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran matematika”.

F.       Sistematika Penulisan
Pada skripsi yang berjudul “Pengaruh Kemampuan Berpikir Kreatif Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Matematika (Studi Kasus Kelas VIII di MTs Negeri Babakan Ciwaringin Kabupaten Cirebon)”, terdiri dari 5 Bab, yaitu Bab I Pendahuluan, Bab II Landasan Teori, Bab III Metodologi Penelitian, Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan, dan Bab V Penutup. Berikut ini sistematika penulisannya.
 Bab I          : Pendahuluan, yang berisi latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, kerangka pemikiran, hipotesis, dan sistematika penulisan
Bab II         : Landasan Teori, yang berisi mengenai kemampuan berpikir kreatif, prestasi belajar siswa, dan pengaruh kemampuan berpikir kreatif terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran matematika.
Bab III        : Metodologi Penelitian, yang berisi metode atau langkah-langkah dalam penelitian yaitu menentukan sumber data, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data.
Bab IV        : Hasil Penelitian dan Pembahasan, pada bab ini penulis dituntut untuk melakukan perhitungan statistik dengan demikian akan diperoleh sejauhmana pengaruh kemampuan berpikir kreatif terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran matematika (studi kasus kelas VIII di MTs Negeri Babakan Ciwaringin Kabupaten Cirebon). Dengan sub judul deskripsi data, analisis data , dan pembahasan.   
Bab V         : Penutup, dalam bab ini hanya ada dua judul yaitu kesimpulan dan saran-saran. Halaman selanjutnya adalah daftar pustaka dan lampiran-lampiran.






















BAB II
LANDASAN TEORI


A.           Kemampuan Berpikir Kreatif
1.        Pengertian Berpikir Kreatif
Berpikir dapat diartikan sebagai proses menentukan hubungan-hubungan secara bermakna antara aspek-aspek dari suatu bagian pengetahuan. Sebagai bentuk aktivitas, berpikir merupakan tingkah laku simbolis, karena seluruh aktivitas ini berhubungan dengan atau mengenai penggantian hal-hal yang konkrit. Sebagai contoh: seseorang anak menghadapi sebuah hitungan sebagai bagian pengetahuan menghitung sebagai berikut 8 + 3 x 6 = . . . pengetahuan seperti itu mengandung aspek-aspek yang bersifat simbolis, yaitu berupa tanda-tanda, angka-angka, ketentuan dan sebagainya yang telah diperoleh melalui pengalaman (Ahmad Tantowi, 1993: 76).
Jelas berpikir melibatkan penggunaan lambang, visual atau grafis. Tetapi untuk apa orang berpikir? berpikir kita lakukan untuk memahami realitas dalam rangka mengambil keputusan, memecahkan persoalan, dan menghasilkan yang baru. Memahami yang realitas berarti menarik kesimpulan, meneliti berbagai kemungkinan penjelasan dari realitas internal dan eksternal.
Menurut Syaiful Sagala (2006: 129) berpikir merupakan proses dinamis yang menempuh tiga langkah berpikir, yaitu:
a.         Pembentukan pengertian yaitu melalui proses mendeskripsi ciri-ciri objek yang sejenis mengklasifikasi ciri-ciri yang sama mengabstraksi dengan menyisihkan, membuang, dan menganggap ciri-ciri yang hakiki.
b.        Pembentukan pendapat, yaitu meletakkan hubungan antar dua buah pengertian atau lebih yang hubungan itu dapat dirumuskan secara verbal berupa pendapat menolak, pendapat menerima, dan pendapat asumtif yaitu mengungkapkan kemungkinan-kemungkinan suatu sifat pada suatu hal.
c.         Pembentukan keputusan, yaitu penarikan kesimpulan yang berupa keputusan sebagai hasil pekerjaan akal berupa pendapat baru yang dibentuk berdasarkan pendapat-pendapat yang sudah ada.

Secara garis besar ada dua macam berpikir: berpikir autistik dan berpikir realistik. Yang pertama mungkin lebih tepat disebut melamun. Contohnya fantasi, dan menghayal. Dengan berpikir autistik orang melarikan diri dari kenyataan, dan melihat hidup sebagai gambar-gambar fantastis. Berpikir realistik, disebut juga nalar (reasoning), ialah berpikir dalam rangka menyesuaikan diri dengan dunia nyata.
Berpikir kreatif menurut James C. Coleman dan Coustance L. Hammen yang dikutip Jalaluddin Rahmat (2005: 74)  adalah “thinking which produces new methods, new concepts, new understandings, new inventions, new work of art.” Berpikir kreatif diperlukan mulai dari komunikator yang harus mendesain pesannya, insinyur yang harus merancang bangunan, ahli iklan yang harus menata pesan verbal dan pesan grafis, sampai pada pemimpin masyarakat yang harus memberikan perspektif baru dalam mengatasi masalah sosial.  Sedangkan menurut Lester D. Crow (1984: 447) berpikir kreatif berarti kita melibatkan diri dalam proses mental yang sama yang dipergunakan dalam bentuk berfikir lain dan melibatkan bidang-bidang penangkapan, asosiasi dan pengungkapan kembali.
Berdasar pendapat-pendapat tersebut, maka berpikir kreatif dapat diartikan sebagai suatu kegiatan mental yang digunakan seseorang untuk membangun ide atau gagasan yang baru. Ia dapat diberikan dalam bentuk idea yang nyata ataupun abstrak. Dapat di lihat dalam contoh: mencipta idea yang baru, mencipta analogi dan methapora.
Menurut Iskandar (2009: 89) berpikir kreatif dapat dilihat dari dua komponen:
a.         Suatu kelompok kemampuan yang digunakan untuk memproses atau melahirkan informasi dan keyakinan.
b.         Suatu kebiasaan, yang terbentuk berlandaskan komitmen intelektual, dalam menggunakan kemampuan tersebut untuk menjadi landasan kepada perilaku manusia.


2.        Konsep Kemampuan Berpikir Kreatif
Berpikir kreatif diperlukan mulai dari komunikator yang harus mendesain pesannya, insinyur yang harus merancang bangunan, ahli iklan yang harus menata pesan verbal dan pesan grafis, sampai pada pemimpin masyarakat yang harus memberikan perspektif baru dalam mengatasi masalah sosial. Dalam (http://suaraguru.wordpress. com/2009/02/23/ meningkatkan- kemampuan berpikir-kreatif-siswa/15/01/2011) menyatakan bahwa berpikir kreatif dipandang sebagai satu kesatuan atau kombinasi dari berpikir logis dan berpikir divergen untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Sesuatu yang baru tersebut merupakan salah satu indikasi dari berpikir kreatif dalam matematika.
Pehkonen (1997:65) mendefinisikan berpikir kreatif sebagai kombinasi antara berpikir logis dan berpikir divergen yang didasarkan pada intuisi tapi masih dalam kesadaran. Ketika seseorang menerapkan berpikir kreatif dalam suatu praktek pemecahan masalah, pemikiran divergen menghasilkan banyak ide yang berguna dalam menyelesaikan masalah. Dalam berpikir kreatif dua bagian otak akan sangat diperlukan. Keseimbangan antara logika dan kreativitas sangat penting. Jika salah satu menempatkan deduksi logis terlalu banyak, maka kreativitas akan terabaikan. Dengan demikian untuk memunculkan kreativitas diperlukan kebebasan berpikir tidak di bawah kontrol dan tekanan.
Setiap manusia mempunyai potensi untuk bisa berpikir secara kreatif. Masalahnya berdasarkan penelitian para ahli otak, manusia tidak memafaatkan kapasitas otaknya. Manusia hanya mempergunakan 10% kemampuan berpikirnya. Salah satu cara mengoptimalkan pemanfaatan kapasitas otak adalah mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi salah satunya berpikir kreatif (http://www.Rosyid.info/2010/06/berfikir kreatif. html.02/10/2010).
Menurut Jalaluddin Rahmat(2005: 74) berpikir kreatif harus memenuhi tiga syarat. Pertama, kreativitas melibatkan respon atau gagasan yang baru, atau secara statistik sangat jarang terjadi. Kedua, kreativitas ialah dapat memecahkan persoalan secara realistis. Ketiga, kreativitas merupakan usaha untuk mempertahankan insight yang orisinil, menilai dan mengembangkannya sebaik mungkin. Jadi, untuk bisa memahami kemampuan berpikir kreatif, kita terlebih dahulu memahami kreativitas.
Para psikolog menyebutkan lima tahap berpikir kreatif:
a.    Orientasi: Masalah dirumuskan, dan aspek-aspek masalah diidentifikasi.
b.    Preparasi: Pikiran berusaha mengumpulkan sebanyak mungkin informasi yang relevan dengan masalah.
c.    Inkubasi: Pikiran beristirahat sebentar, ketika berbagai pemecahan berhadapan dengan jalan buntu. Pada tahap ini, proses pemecahan berlangsung terus dalam jiwa bawah sadar   kita.
d.   Iluminasi: Masa inkubasi berakhir ketika pemikir memperoleh semacam ilham, serangkaian insight yang memecahkan masalah.
e.    Verifikasi: Tahap terakhir untuk menguji dan secara kritis menilai pemecahan masalah yang diajukan dalam tahap keempat.


Proses ini dapat dilukiskan dengan kisah Archimedes. Raja Cyracus ingin mengetahui apakah mahkotanya betul-betul terbuat dari emas murni atau tukang emas sudah menggantinya. Ia menyuruh Archimedes menelitinya. Archimedes mulai berpikir, “Bagaimana caranya menentukan logam yang dijadikan bahan mahkota itu tanpa merusaknya?” (Orientasi). Lalu, ia meneliti semua cara untuk menganalisa logam (Preparasi). Semuanya memerlukan pemotongan atau pemecahan. Ini tidak mungkin dilakukan. Archimedes menyingkirkan soal ini sementara (Inkubasi). Suatu hari, ketika ia mandi, ia merasakan tubuhnya mengapung. Ia menemukan pemecahannya (Illuminasi). Ia melonjak gembira, dan dalam keadaan telanjang lari ke jalan, seraya berteriak,”Eureka, eureka!” (Saya menemukannya, saya menemukannya!). Setelah itu, ia menguji hukum Archimedes – begitu kemudian dikenal dalam dunia fisika – untuk meneliti berapa jumlah air yang dipindahkan oleh emas murni seberat emas dalam mahkota itu (verifikasi) (Jalaluddin Rahmat, 2005: 76).

Menurut Coleman dan Hammen yang dikutip Jalaluddin Rahmat (2005: 77) bahwa ada beberapa faktor yang menandai orang-orang yang berpikir kreatif:
a.    Kemampuan kognitif: Termasuk disini kecerdasan diatas rata-rata, kemampuan melahirkan gagasan-gagasan baru, gagasan-gagasan yang berlainan, dan fleksibilitas kognitif.
b.    Sikap yang terbuka: Orang kreatif mempersiapkan dirinya menerima stimuli internal dan eksternal; ia memiliki minat yang beragam dan luas.
c.    Sikap yang bebas, otonom, dan percaya pada diri sendiri. Orang kreatif tidak senang “digiring”; ingin menampilkan dirinya semampu dan semaunya; ia tidak terlalu terikat pada konvensi-konvensi sosial. Mungkin inilah sebabnya, orang-orang kreatif sering dianggap “nyentrik”.

Agus Efendi (2005: 267) menjelaskan bahwa dalam dalam ciri non kognitif termasuk ciri berpikir kreatif, yaitu motivasi, sikap dan kepribadian kreatif. Dan dalam ciri kognitif termasuk ciri berpikir kreatif, yaitu orisinalitis, fleksibilitas, kelancaran dan elaborasi.
1.         Orisinalitis/keaslian (Originality)
            Keaslian adalah kemampuan untuk mencetuskan gagasan dengan cara-cara yang asli, tidak klise. Keaslian berkaitan dengan kemampuan memberikan respon yang khas/ unik berbeda dengan yang biasa dilakukan orang lain. 
2.         Fleksibilitas/keluwesan (Flexibility)
            Keluwesan adalah kemampuan untuk mengemukakan bermacam-macam pemecahan atau pendekatan terhadap masalah. Keluwesan berkaitan dengan kemampuan untuk membuat variasi terhadap satu ide dan kemampuan memperoleh cara baru.
3.         Kelancaran (Fluency)
     Kelancaran adalah kemampuan untuk memberikan berbagai respon. Kelancaran pada umumnya berkaitan dengan kemampuan melahirkan alternatif-alternatif pada saat diperlukan.
4.         Elaborasi/penguraian (Elaboration)
            Penguraian adalah kemampuan untuk menguraikan sesuatu secara lebih terinci. Dapat dikatakan elaborasi merupakan penambahan detail atau keterangan terhadap ide yang sudah ada.

Berdasarkan keterangan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa kreativitas berpikir dapat diukur ketika produk yang dihasilkan asli, tidak sama dengan yang lain atau siswa dapat dikatakan berpikir kreatif jika hasil yang mereka dapatkan memenuhi keempat kriteria diatas yang pada intinya siswa dapat menciptakan dari yang semula tidak ditemukan, atau siswa dapat mengkombinasikan sesuatu yang mereka ketahui sehingga menghasilkan sesuatu yang baru, dan siswa dapat menyelesaikan, memecahkan permasalahan yang berbeda dari permasalahan yang pernah dimisalkan.
Menurut Utami Munandar (1991: 93) kekreatifan siswa dalam berpikir dapat dilihat dari produk yang dihasilkan sehingga memenuhi ketentuan-ketentuan langkah-langkah kreatif sebagai berikut:
1.     Menemukan fakta
2.    Menemukan masalah
3.    Menemukan gagasan-gagasan
4.    Menemukan solusi
5.    Menemukan penerimaan
Ketika siswa menyelesaikan soal bentuk essay dan langkah-langkahnya memenuhi ketentuan langkah-langkah kreatif diatas maka siswa dapat dikatakan berpikir kreatif.


B.            Prestasi Belajar Siswa
Untuk mendapatkan suatu prestasi tidaklah semudah yang dibayangkan, karena memerlukan perjuangan dan pengorbanan dengan berbagai tantangan yang harus dihadapi.
Penilaian terhadap hasil belajar siswa untuk mengetahui sejauhmana ia telah mencapai sasaran belajar inilah yang disebut sebagai prestasi belajar. Seperti yang dikatakan oleh W.S.Winkel (1983: 55) bahwa proses belajar yang dialami oleh siswa menghasilkan perubahan-perubahan dalam bidang pengetahuan dan pemahaman, dalam bidang nilai, sikap dan keterampilan. Adanya perubahan tersebut tampak dalam prestasi belajar yang dihasilkan oleh siswa terhadap pertanyaan, persoalan atau tugas yang diberikan oleh guru. Melalui prestasi belajar siswa dapat mengetahui kemajuan-kemajuan yang telah dicapainya dalam belajar.
Sedangkan J.P. Chaplin (1981: 5) dalam Dictionary of Psychology  berpendapat bahwa prestasi belajar merupakan satu tingkat khusus dari kesuksesan karena mempelajari tugas-tugas, atau tingkat tertentu dari kecakapan / keahlian dalam tugas-tugas sekolah atau akademis. Secara pendidikan atau akademis, prestasi merupakan satu tingkat khusus perolehan atau hasil keahlian dalam karya akademis yang dinilai oleh guru-guru, melalui tes-tes yang dibakukan, atau melalui kombinasi kedua hal tersebut. Hal ini berarti prestasi belajar hanya bisa diketahui jika telah dilakukan penilaian terhadap hasil belajar siswa.
               Adapun menurut Purwadarminta (1996: 787) dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, prestasi adalah hasil yang telah dicapai ( dari hasil yang telah dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya ). Sedangkan prestasi belajar itu sendiri diartikan sebagai prestasi yang dicapai oleh seorang siswa pada jangka waktu tertentu dan dicatat dalam buku raport sekolah.
Dari beberapa definisi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa prestasi belajar merupakan hasil usaha belajar yang dicapai seorang siswa berupa suatu kecakapan dari kegiatan belajar bidang akademik di sekolah pada jangka waktu tertentu yang dicatat pada setiap akhir semester di dalam buku laporan yang disebut raport.

1.     Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

Untuk meraih prestasi belajar yang baik, banyak sekali faktor yang perlu diperhatikan, karena di dalam dunia pendidikan tidak sedikit siswa yang mengalami kegagalan. Kadang ada siswa yang memiliki dorongan yang kuat untuk berprestasi dan kesempatan untuk meningkatkan prestasi, tapi dalam kenyataannya prestasi yang dihasilkan di bawah kemampuannya.
Untuk meraih prestasi belajar yang baik banyak sekali faktor-faktor yang perlu diperhatikan. Menurut Sumadi Suryabrata (2004: 233), secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dan prestasi belajar dapat digolongkan menjadi dua bagian, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
a.         Faktor internal
Merupakan faktor yang berasal dari dalam diri siswa yang dapat mempengaruhi prestasi belajar. Faktor ini dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu :

1).      Faktor fisiologis
Dalam hal ini, faktor fisiologis yang dimaksud adalah faktor yang berhubungan dengan kesehatan dan pancaindera

a.      Kesehatan badan
Untuk dapat menempuh studi yang baik siswa perlu memperhatikan dan memelihara kesehatan tubuhnya. Keadaan fisik yang lemah dapat menjadi penghalang bagi siswa dalam menyelesaikan program studinya. Dalam upaya memelihara kesehatan fisiknya, siswa perlu memperhatikan pola makan dan pola tidur, untuk memperlancar metabolisme dalam tubuhnya. Selain itu, juga untuk memelihara kesehatan bahkan juga dapat meningkatkan ketangkasan fisik dibutuhkan olahraga yang teratur.

b.      Pancaindera
Berfungsinya pancaindera merupakan syarat dapatnya belajar itu berlangsung dengan baik. Dalam sistem pendidikan dewasa ini di antara pancaindera itu yang paling memegang peranan dalam belajar adalah mata dan telinga. Hal ini penting, karena sebagian besar hal - hal yang dipelajari oleh manusia dipelajari melalui penglihatan dan pendengaran. Dengan demikian, seorang anak yang memiliki cacat fisik atau bahkan cacat mental akan menghambat dirinya didalam menangkap pelajaran, sehingga pada akhirnya akan mempengaruhi prestasi belajarnya di sekolah.

2).    Faktor Psikologis
Ada banyak faktor psikologis yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa, antara lain adalah :

a.      Intelligensi
Pada umumnya, prestasi belajar yang ditampilkan siswa mempunyai kaitan yang erat dengan tingkat kecerdasan yang dimiliki siswa. Menurut Alfred Binet dalam buku Triantoro Safaria (2008: 44) hakikat inteligensi adalah kemampuan untuk menetapkan dan mempertahankan suatu tujuan, untuk mengadakan penyesuaian dalam rangka mencapai tujuan itu, dan untuk menilai keadaan diri secara kritis dan objektif.  Taraf inteligensi ini sangat mempengaruhi prestasi belajar seorang siswa, di mana siswa yang memiliki taraf inteligensi tinggi mempunyai peluang lebih besar untuk mencapai prestasi belajar yang lebih tinggi. Sebaliknya, siswa yang memiliki taraf inteligensi yang rendah diperkirakan juga akan memiliki prestasi belajar yang rendah (Muhibbin Syah, 2003: 134). Namun bukanlah suatu yang tidak mungkin jika siswa dengan taraf inteligensi rendah memiliki prestasi belajar yang tinggi, juga sebaliknya.

b.      Sikap
Sikap yang pasif, rendah diri dan kurang percaya diri dapat merupakan faktor yang menghambat siswa dalam menampilkan prestasi belajarnya. Menurut W.S. Winkel (1983: 163) sikap adalah kecenderungan untuk bereaksi secara positif ( menerima ) atau secara negatif ( menolak ) trhadap suatu objek berdasarkan penilaian terhadap objek itu sebagai objek yang berharga ( menolak ). Sikap siswa yang positif terhadap mata pelajaran di sekolah merupakan langkah awal yang baik dalam proses belajar mengajar di sekolah.

d.      Motivasi
Menurut Mohamad Surya yang dikutip oleh Sardiman (2004: 91) motivasi dapat diartikan sebagai suatu upaya untuk menimbulkan atau meningkatkan dorongan untuk mewujudkan perilaku tertentu yang terarah kepada pencapaian suatu tujuan tertentu. Dengan motivasi, pelajar dapat mengembangkan aktivitas dan inisiatif, dapat mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam melakukan kegiatan belajar. Memberikan motivasi kepada seseorang siswa untuk melakukan sesuatu atau ingin melakukan sesuatu. Pada tahap awalnya akan menyebabkan si subjek belajar merasa ada kebutuhan dan ingin melakukan sesuatu kegiatan belajar.

e.       Kecakapan Kreatif
Semua orang memiliki potensi kreatif, meskipun tidak semuanya dapat mengembangkan dan menggunakannya secara penuh. Setiap orang memiliki kapasitas untuk melakukannya, bahkan kita sering mengizinkan banyak hal berada di jalan berpikir kreatif. Dalam mempelajari matematika, kemampuan menyelesaikan atau memecahkan masalah matematika memerlukan kemampuan berpikir secara kreatif. Untuk membuktikan suatu soal dalam matematika diperlukan kemampuan berpikir kreatif.  Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan suatu proses belajar mengajar adalah prestasi belajar siswa. Prestasi belajar siswa dalam matematika akan meningkat jika siswa menguasai konsep dari pokok-pokok bahasan dalam matematika. Sedangkan untuk menguasai konsep pokok bahasan dalam matematika diperlukan adanya kemampuan berpikir kreatif.

b.      Faktor eksternal
Selain faktor-faktor yang ada dalam diri siswa, ada hal-hal lain di luar diri yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yang akan diraih, antara lain adalah:

1).    Faktor lingkungan sosial
Menurut Muhibbin Syah (2003: 137) lingkungan sosial sekolah seperti para guru, para staf administrasi, dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi semangat belajar seorang siswa, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa.
Lingkungan sosial yang lebih banyak mempengaruhi kegiatan belajar ialah orang tua dan keluarga itu sendiri. Sifat orang tua, praktik pengelolaan keluarga, ketegangan keluarga, dan demografi keluarga ( letak rumah ), semuanya dapat memberi dampak baik ataupun buruk terhadap kegiatan belajar dan hasil yang dicapai oleh siswa.

2).    Faktor lingkungan nonsosial
Faktor-faktor yang termasuk lingkungan nonsosial ialah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga siswa dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa. Faktor-faktor ini dipandang turut menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa.
Contoh: Kondisi rumah yang sempit dan berantakan serta perkampungan yang terlalu padat dan tidak memiliki sarana umum untuk kegiatan remaja ( seperti lapangan voli ) akan mendorong siswa untuk berkeliaran ke tempat-tempat yang sebenarnya tidak pantas dikunjungi. Kondisi rumah dan perkampungan seperti itu jelas berpengaruh buruk terhadap kegiatan belajar siswa.


2.      Pengukuran Prestasi Belajar

Dalam dunia pendidikan, menilai merupakan salah satu kegiatan yang tidak dapat ditinggalkan. Menilai merupakan salah satu proses belajar dan mengajar. Di Indonesia, kegiatan menilai prestasi belajar bidang akademik di sekolah-sekolah dicatat dalam sebuah buku laporan yang disebut rapor. Dalam rapor dapat diketahui sejauhmana prestasi belajar seorang siswa, apakah siswa tersebut berhasil atau gagal dalam suatu mata pelajaran. Didukung oleh pendapat Sumadi Suryabrata (2004: 296) bahwa raport merupakan perumusan terakhir yang diberikan oleh guru mengenai kemajuan atau hasil belajar murid-muridnya selama masa tertentu.
Suharsimi Arikunto menyebutkan bahwa ada beberapa fungsi penilaian dalam pendidikan, yaitu :
a.      Penilaian berfungsi selektif (fungsi sumatif)
Dengan cara mengadakan penilaian guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksi atau penilaian terhadap siswanya. Menurut Suharsimi Arikunto (1996: 10) penilaian itu sendiri mempunyai berbagai tujuan, antara lain: 
1)      Memilih siswa yang akan diterima di sekolah
2)      Memilih siswa untuk dapat naik kelas
3)      Memilih siswa yang seharusnya dapat beasiswa
4)      Memilih siswa yang sudah berhak meninggalkan sekolah, dan sebagainya.
b.      Penilaian berfungsi diagnostik
Apabila alat yang digunakan dalam penilaian cukup memenuhi persyaratan, maka dengan melihat hasilnya, guru akan mengetahui kelemahan siswa. Disamping itu diketahui pula sebab-musabab kelemahan itu. Jadi dengan mengadakan penilaian, sebenarnya guru mengadakan diagnose kepada siswa tentang kebaikan dan kelemahannya. Dengan diketahuinya sebab-sebab kelemahan ini, akan lebih mudah dicari cara untuk mengatasinya (Suharsimi Arikunto, 1996: 11).

c.       Penilaian berfungsi sebagai penempatan ( placement )
Sistem baru yang kini banyak dipopulerkan di Negara barat, adalah sistem belajar sendiri. Belajar sendiri dapat dilakukan dengan cara mempelajari sebuah paket belajar, baik itu berbentuk modul maupun paket belajar yang lain. Sebagai alasan dari timbulnya sistem ini adalah adanya pengakuan yang besar terhadap kemampuan individual. Setiap siswa sejak lahirnya telah membawa bakat sendiri-sendiri sehingga pelajaran akan lebih efektif apabila disesuaikan dengan pembawaan yang ada. Akan tetapi disebabkan karena keterbatasan sarana dan tenaga, pendidikan, yang bersifat individual kadang-kadang sukar sekali dilaksanakan. Pendekatan yang lebih bersifat melayani perbedaan kemampuan, adalah pengajaran secara kelompok. Untuk dapat menentukan dengan pasti di kelompok mana seorang siswa harus ditempatkan, digunakan suatu penilaian.

d.      Penilaian berfungsi sebagai pengukur keberhasilan
Fungsi ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu program berhasil diterapkan (Suharsimi Arikunto, 1996: 12). Sebagai contoh adalah raport di setiap semester di sekolah-sekolah tingkat dasar dan menegah dapat dipakai untuk mengetahui apakah program pendidikan yang telah diterapkan berhasil diterapkan atau tidak pada siswa  tersebut.

Raport semenjak Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) mengambil nilai dari angka 10 sampai dengan 100. Nilai-nilai di bawah 50 berarti tidak baik atau buruk, sedangkan nilai-nilai di atas 50 berarti cukup baik, baik dan sangat baik.
Dalam penelitian ini pengukuran prestasi belajar menggunakan penilaian sebagai pengukur keberhasilan (fungsi formatif), yaitu nilai-nilai raport pada akhir masa semester genap tahun pelajaran 2010/2011. Hal itu dikarenakan nilai raport merupakan gabungan dari beberapa nilai yang diperoleh dari beberapa penilaian selama satu semester, sehingga dapat menggambarkan berbagai aspek penguasaan siswa terhadap penguasaan materi matematika.   

C.           Pengaruh Kemampuan Berpikir Kreatif terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Matematika
Berkaitan dengan pembelajaran matematika, kemampuan berpikir kreatif merupakan salah satu faktor dari diri siswa (faktor internal) yang akan berpengaruh pada kelancaran dan keberhasilan proses kegiatan belajar mengajar. Menurut Agus Effendi (2005: 258) kemampuan berpikir kreatif dalam belajar matematika sangat diperlukan mengingat bahwa belajar matematika merupakan belajar berpikir, belajar mengorganisasi dan belajar membuktikan dengan logika. Selain itu belajar matematika juga harus sistematis, terurut dan teratur dari suatu materi ke materi yang lain, dari yang konkrit ke yang abstrak, atau dari yang mudah ke yang sukar.
Proses belajar mengajar sebagai inti dari kegiatan pendidikan secara keseluruhan melibatkan guru dan siswa dalam suatu interaksi edukatif yang saling menunjang untuk mencapai tujuan tertentu. Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan suatu  proses belajar mengajar adalah tingkat prestasi yang dicapai siswa dalam pengajaran.
Perlu diketahui bahwa ada tiga faktor yang menentukan prestasi:
1.    Motivasi atau komitmen yang tinggi
2.    Keterampilan dalam bidang yang ditekuni
3.    Kecakapan kreatif 
Berdasarkan uraian diatas, kemampuan berpikir kreatif yaitu kemampuan berpikir secara kreatif dilakukan dengan menggunakan pemikiran dalam mendapat ide-ide baru, kemungkinan baru, ciptaan yang baru berdasarkan kepada keaslian dalam penghasilannya. Mempunyai kemungkinan akan berpengaruh terhadap prestasi belajar pada mata pelajaran matematika.


D.           Penelitian Yang Relevan
Beberapa penelitian yang pernah dilakukan terkait dengan penelitian ini adalah:
1.             Penelitian dari Dapiah pada tahun 2003/2004 tentang “Korelasi Kemampuan Penalaran Analogi Matematika dengan Prestasi Belajar Siswa di SMAN 1 Sumber. Salah satu kesimpulannya menyatakan bahwa kemampuan penalaran analogi matematika ternyata cukup berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa di SMAN 1 Sumber.
2.             Penelitian dari Hadi Kusmanto pada tahun 2003/2004 tentang “Korelasi Antara Realistic Mathematics Education (RME) dengan Kreativitas berpikir siswa. Di SMPN 1 Plumbon. Salah satu kesimpulannya terdapat korelasi yang signifikan antara Realistic Mathematics Education (RME) dengan kreativitas berpikir siswa.

Berdasarkan uraian diatas, penulis merasa tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Pengaruh Kemampuan Berpikir Kreatif Terhadap Prestasi Belajar Matematika Pada Mata Pelajaran Matematika Kelas VIII MTs Negeri Babakan Ciwaringin Cirebon Tahun Pelajaran 2010/2011. Yang membedakan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara kemampuan berpikir kreatif dengan prestasi belajar pada mata pelajaran matematika dan seberapa tinggi pengaruhnya.
















BAB III
METODOLOGI PENELITIAN


A.           Tempat dan Waktu Penelitian
1.      Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di MTs Negeri Babakan Ciwaringin Kabupaten Cirebon. Madrasah Tsanawiyah Negeri ( MTsN ) Babakan Ciwaringin mulai didirikan pada tahun 1968 yang dahulu disebut MTs AIN. Atas jasa pemikiran, perjuangan dan pengorbanan para sesepuh dan tokoh Pondok Pesantren “Raudlatut Tholibin”, diantaranya : KH. Amin Sepuh, KH. Fathoni, KH. Fuad Amin, KH. Bisri Amin, KH. Abdullah Amin, KH. Azhari Amin, dan Drs. KH. Zuhri Afif Amin.
MTs Negeri Babakan Ciwaringin terletak diantara Madrasah Aliyah Negeri   ( MAN ) Model Ciwaringin dan MTs swasta, yaitu di Desa Babakan Kecamatan Ciwaringin Kabupaten Cirebon. Desa Babakan Kecamatan Ciwaringin dikenal sebagai desa tempat pendidikan, karena di desa tersebut terdapat berbagai macam sekolah, seperti Sekolah Tinggi Agama Islam Swasta, Lembaga Keahlian, Madrasah Aliyah Negeri dan Swasta, Madrasah Tsanawiyah Negeri dan Swasta, SMA Swasta, SMK Swasta, SMP Negeri dan Swasta, SD Negeri dan Madrasah Ibtidaiyah dan kurang lebih 30 Pondok Pesantren yang letaknya tidak berjauhan.

Ditinjau dari letaknya, MTs Negeri Babakan Ciwaringin dapat dikatakan cukup strategis. Letak dari jalan raya menuju MTs Negeri Babakan Ciwaringin kurang lebih 500 meter.

Sarasan dalam penelitian ini adalah siswa Kelas VIII di MTs Negeri Babakan Ciwaringin Cirebon. Alasan penulis meneliti di Kelas VIII berdasarkan pertimbangan sebagai berikut:
1.         Permasalahan dalam penelitian ini banyak ditemukan pada siswa kelas VIII.
2.         Siswa kelas VIII diduga mempunyai pengalaman belajar dan telah beradaptasi dengan lingkungan sekolah relatif lama, sehingga dapat mempermudah didalam meneliti aspek kemampuan berpikir kreatifnya.

Lokasi penelitian ini dilakukan di MTs Negeri Babakan Ciwaringin Cirebon. Alasan penulis memilih sekolah ini sebagai lokasi penelitian dengan alasan, bahwa lokasi penelitian tidak jauh dari rumah penulis, sehingga bisa menghemat waktu, tenaga dan biaya selama melakukan penelitian.


2.      Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama beberapa bulan dari 26 Januari  – 26 Maret Tahun 2010/2011. Adapun jadwal pelaksanaan penelitian, sebagai berikut:
Tabel 2
Tabel Rincian Waktu Penelitian
No.
Kegiatan
Januari
Pebruari
Maret
Juni
Juli
1
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1.
Persiapan














2.
Observasi

ΓΌ   














3.
Pelaksanaan tes
















4.
Analisis data















5.
Penyusunan laporan


















B.            Populasi dan Sampel Penelitian
1.        Populasi Penelitian
Menurut Sugiyono dalam Riduwan (2005: 54), populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari subjek yang menjadi kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII MTs Negeri Babakan Ciwaringin Kabupaten Cirebon tahun pelajaran 2010 / 2011 yang berjumlah 499 siswa.



Tabel 3
Jumlah Siswa MTs Negeri Babakan Ciwaringin Cirebon
Kelas
Jumlah Siswa
Total
Laki-laki
Perempuan
VIII. A

45
45
VIII. B
47

47
VIII. C

45
45
VIII. D
45

45
VIII. E

46
46
VIII. F
47

47
VIII. G

45
45
VIII. H
47

47
VIII. I

45
45
VIII. J
43

43
VIII. K

46
46
Jumlah
299
272
499


2.        Sampel Penelitian
Dengan mengacu pada Riduwan dan Arkadon (2009: 254),  yang menyatakan bahwa apabila populasi lebih dari 100 orang, maka penarikan sampel dalam penelitian ini menggunakan sampel secara acak (Random Sampling). Sedangkan teknik pengambilan sampelnya menggunakan rumus dari Slovin. Adapun rumusnya sebagai berikut;
n      =          Jumlah sampel
N     =          Jumlah populasi
d2    =          Presisi

Dengan mengacu pada rumus tersebut di atas, maka dari jumlah populasi siswa kelas VIII yang berjumlah 499 siswa dengan tingkat kesalahan pengambilan sampel sebesar 10%, didapatkan sampel sejumlah 83 siswa. Adapun metode pengambilan sampel yang dipakai pada penelitian ini adalah menggunakan teknik Proportional Random Sampling. Teknik Random Sampling yang dipergunakan adalah dengan cara undian. Langkah pertama adalah dengan memberi nomor urut pada masing-masing populasi, setelah membuat nomor yang dimasukkan kedalam gelas yang berlubang kemudian diambil sebanyak 83 kali. Nomor yang keluar dipergunakan sebagai sampel penelitian. Sedangkan yang dimaksud dengan proporsional adalah dimana tiap-tiap sub populasi mendapat bagian atau kesempatan yang sama untuk menjadi sampel dalam penelitian.
Menurut Sugiyono dalam Riduwan (2005: 66), untuk prosedur pengambilan sampel dengan metode Proporsional Random Sampling dipergunakan rumus sebagai berikut:
 
Keterangan:       ni  :  Jumlah sampel menurut stratum
              Ni :  Jumlah populasi menurut stratum
              N  :  Jumlah populasi seluruhnya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar